Archive for March, 2009
smoothing (lagi)
Smoothing (lagi)
Feminity. Mungkin naluri kewanitaanlah yang muncul dan mendominasi kepalaku ketika aku memperhatikan wajahku di cermin siang ini, di toilet kantor. Lemah, letih, lesu. Rambut yang agak berantakan karena tadi pagi belum sempat di’setrika’. Wajah yang kusam tak bercahaya, ada jerawat di dahi dan di pipi, jerawat yang beda dari biasa, biasanya cuman jerawat – jerawat kecil, ini jerawatnya agak gedean. Di seputar bola mata ada lingkaran hitam. Bukan tanda – tanda ketuaan, aku menghibur diri, itu cuman tanda-tanda keletihan fisik dan mungkin ditambah lagi dengan keletihan mental. Fisik, secara 3 hari ini aku tidurnya pagi. Dimulai dari sabtu pagi, setelah melewatkan perjalanan selama hampir 8 jam dari medan – sidikalang, berangkatnya jam 7 malam nyampe di rumah jam 3 pagi. Minggu malam, lembur sampe jam 3 pagi gara-gara curhat sama bokap. Curhat berjam-jam, membahas beraneka ragam topik. Mulai dari masalah pribadi sampe masalah daerah, nasional dan internasional. Ponari, caleg, protap, obama dan lain sebagainya. Senin, setelah nyampe di rumah kontrakan di medan jam 1 pagi, aku masih sempat2nya online lagi sampe jam 3 pagi dengan seseorang. Jadi wajar dong..capek. Kalo mental, yah ngaruh juga sih, secara aku banyak pikiran akhir – akhir ini !!! Huh! Kapan sih aku brenti mikir ? eh, bukan itu kalimat yang seharusnya… Huh! Kapan sih aku ga banyak pikiran ? Temanku bilang aku hobbi mikir. Benarkah ?????? Pokoknya, intinya, wajarlah dan dapat diterima akal sehat, kalo aku jerawatan, lesu dan ga bercahaya. Berdasarkan hal tersebut, maka akupun memutuskan untuk mengunjungi salon terdekat sore hari sepulang kantor. Ingin melakukan sesuatu dengan rambut ini dan wajah ini. Berhubung sudah sore, kedua-duanya ga sempat dikerjain sekaligus, dan aku milih untuk meluruskan rambut lagi (smoothing) terlebih dahulu. Aku udah lupa ini smoothing keberapa dalam hidupku, yang pasti lebih dari ke-4. Dan seperti sebelum2nya, mulailah proses smoothing itu. Pertama kali rambut diuci dengan bersih, lalu dikasih moisturizer untuk menghindari kerusakan rambut akibat proses pelurusan. Setelah itu rambut dilumuri dengan krim pelurus rambut. Setelah dilumuri krim, rambut harus didiamkan beberapa lama (kurang lebih 2 jam). Dan inilah bagian paling membosankan itu. Menunggu. Rasanya lama sekali, apalagi menunggunya sambil kelaparan, wuiih. Untuk memaksimalkan pemanfaatan waktu yang harus dilewati dalam penantian yang cukup menyengsarakan itu, aku berlatih memusatkan pikiran. Mengendalikan pikiran-pikiran yang berkecamuk dalam kepala, memilih salah satu topik yang kusukai dan mengeliminasi pikiran-pikiran lain yang terlintas, sehingga aku hanya konsen pada satu hal (jadi ingat latihan konsentrasi yang dulu pernah diajarkan bokap padaku waktu aku masih SD). Dalam proses pemusatan pikiran atau yang sering disebut dengan bertapa (atau bermimpi ? entahlah) ada beberapa topik yang sempat melintas dikepalaku, antara lain sebagai berikut :
1. Mendadak aku merasa telah menjelma menjadi si ‘rana’ dalam novel “Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh”, dengan si Re adalah ‘dia’ dan suaminya adalah si ‘dia’. Rana yang bingung. Rana yang letih bertanya. Rana yang ingin menemukan jawaban dan akhirnya memperoleh jawaban dengan terus mengajukan pertanyaan, yang akhirnya terjawab dengan pertanyaan terakhir yang diajukannya sendiri. Pertanyaan – pertanyaan yang bermetamorfosis dari pertanyaan – pertanyaan sederhana menjadi pertanyaan yang berisi jawaban. Mulai dari pertanyaan “Aku sudah mengambil keputusan, namun ternyata keputusan yang kuambil itu salah. Apakah aku masih dapat kembali, membatalkan apa yang sudah kuiyakan walau harus menyakiti hati banyak orang..” sampe akhirnya “hidup itu apa ?” (Aku lupa persisnya pertanyaannya apa, Ojak, Cko, Nich or siapapun yang setahuku udah pernah membaca novel ini pls koreksi aku kalo salah) Novel itu entah kusimpan dimana, udah nyari berbulan-bulan tapi belum nemu.
2. Hidup manusia penuh dengan pilihan. Satu hal yang paling berharga yang dimiliki oleh manusia adalah kebebasan untuk memilih.
3. Aku ingin menikmati hidup. Hidup seperti yang kumau, yang ada dalam imagi aku. Hidup ini hanya sebentar, tak tau kapan akan berakhirnya. Maka dari itu pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.
4. Kayaknya aku harus beli cat kuku baru, pengennya beli yang warna merah muda dan cerah. Atau ada ngga ya warna – warna lain yang lebih unik ? Tapi jangan deh, nyari perhatian namanya.
5. Kalo dikira2 dalam hati, realisasi pengeluaran untuk bulan ini sudah mencapai hampir 90% dari anggaran yang telah kusiapin di awal bulan. Wah, kaco, ternyata susah banget ya menahan keinginan. Katanya keinginan dan kebutuhan memang susah dibedakan. Keinginan yang terlalu besar telah memaksa otak untuk merasiokan keinginan2 sehingga berubah wujud menjadi suatu kebutuhan. Kayak aku nih, ngelurusin rambut di salon ini. Sebenarnya ngga perlu banget, karena rambutku pada dasarnya lurus, cuman karena sering pake helm aja, maka bentuknya suka menyesuaikan diri dengan bentuk helm dan oleh karena itu perlu diubah ke bentuk semula dengan cara ‘disetrika’ setiap hari. Tapi aku udah capek nyetrika mulu. Selain kondisi rambut makin ga beres, juga males aja. Walopun sebenarnya untuk urusan rambut dan make up ga susah aksesnya, sebab cewe2 di kantorku udah membuat markasnya sendiri (di ruang operator telepon). Markas yang dilengkapi dengan peralatan rambut tercanggih dan termutakhir. Tapi letaknya di lantai 3, padahal kan aku di lantai 2. Benar2 capek kalo aku harus naik lantai setiap pagi untuk urusan rambut. Capeeeeek. Nah, dengan men-smoothingkan rambut yang tak seberapa itu, bentuknya kan bakalan ga berubah2 lagi mau diapain aja, jadi akan ngurangin aktivitas berbenah di pagi hari, yang selanjutnya akan mengurangi beban pikiran dan semoga juga akhirnya bisa ngurangin jerawat.
6. Kayaknya seru juga kalo punya salon sendiri. Sebuah ruko 3 lantai. Namanya Tulip atau Chrystan. Lantai 1 buat cafe dengan fasilitas wifi, musik yang ok dan suasana yang santai, lantai 2 buat salon dan lantai 3 buat urusan wajah. Gue akan ngajakin cewe2 mutakhir sekota medan untuk nongkrong disitu.. hmmm, tapi wangi kopi latte, tonic rambut dan masker kulit, apa nyambung ya ?
7. Aku ngga pengen jauh2 dari kota Medan, karna aku udah makin cinta aja dengan suasananya.
8. …
9. ..
Dan tak terasa penantian itu berakhir sudah. Aku diperbolehkan mencuci rambut, dikeringkan, disetrika, lalu dikasih krim lagi. Katanya stabilizer, atau normal, atau netral, entah apalah. Lalu setelah itu dicuci, lalu dikasih serum, katanya untuk mengembalikan vitalitas rambut. Lalu dicuci lagi, disetrika lagi, lalu ‘aha!’ selesai!!! Aku memandang wajahku lagi di cermin salon itu. Satu masalah selesai. Tinggal 2 lagi. Wajah yang redup dan lingkaran hitam. Kayaknya aku harus banyak2 istrahat. Tidur. Memikirkan itu aku segera bergegas pulang. Tempat tidurku yang empuk sudah menanti. Waktu menunjukkan pukul 11 malam.
amazed
pernah ngga tiba-tiba merasa bahwa hidupmu sangat sempurna
sampai-sampai kamu merasa bahwa adalah sangat tidak tahu diri apabila masih berani-beraninya minta sesuatu lagi sama Tuhan ?
meminta rasa sukacita, damai dan kegembiraan pun keterlaluan,
karena hatimu sudah sesak penuh dengan kebahagiaan,
karena semuanya yang kamu perlu sudah disediakan dengan sangat baik,
bahkan melebihi yang kamu butuhkan, yang kamu mau, yang kamu ingini.
aku pernah…
home
Another summer day, has come and gone away, In Paris and Rome
But I wanna go home, mmmm
Maybe surrounded by, a million people I, Still feel all alone
I just wanna go home, Oh, I miss you, you know
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two, I’m fine baby, how are you?
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat, and you deserve more than that
Another aeroplane, another sunny place, I’m lucky I know
But I wanna go home, I’ve got to go home
Let me go home, I’m just too far from where you are
I’ve got to come home, let me go home
I’ve had my run, baby, I’m done
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life, It’s like I just stepped outside
When everything was going right, and I know just why you could not
Come along with me, ‘Cause this was not your dream
But you always believed in me
Another winter day has come and gone away, In even Paris and Rome
And I wanna go home, I miss you, you know
Let me go home, I’ve had my run, Baby, I’m done
I gotta go home, Let me go home
It will all be all right, I’ll be home tonight, I’m coming back home
sebelum pulang…
aku : selamat sore, dengan noriko, ada yang bisa dibantu ?
intan : selamat sore, noe..ada pak jumar ?
aku : ada..nyari pak jumar kok telpnya ke pesawatku
intan : iya, soalnya aku lupa extention-nya pak jumar
aku : ih, tapi aku kan terganggu dengar suaramu
intan : eh, jangan macem2 ko ya, nnti kujambak rambutmu yang baru rebonding itu
aku : dasar cerewet, beraninya di telp aja..nttaarr aku switch..
ngga penting ya ? biarin..yang penting hari ini : HADIR !
Meja Bundar
Siang itu, seperti biasa, anggota tim ‘meja bundar’ berkumpul lagi di meja bundar itu, dihadapan makanan siang masing – masing. Aku, Ibu Tha, Ibu Anda, Ibu Miska, Ibu Intan, Pak SBY dan Pak Mat. Kalo kemaren kami telah mencetuskan ide untuk membentuk kelompok belajar bahasa inggris, yang rencananya akan dimulai dalam waktu dekat (ga jelas kapan), siang ini akhirnya tercetus ide untuk melaksanakan acara karaoke bersama. Acara ini selanjutnya dapat diusulkan sebagai terobosan baru salah satu program culture perusahaan, yaitu pengembangan nilai ‘kesenian’ dan ‘kebersamaan’, sehingga biayanya dapat di-reimburse ke bagian umum.
Memikirkan ttg reimbursement itu, para pencetus ide ini akhirnya dengan semangat membagi tugas, aku untuk me-list orang – orang yang akan ikut serta, Ibu Anda untuk booking room di NAV, Pak SBY untuk menghitung anggaran biaya setelah termasuk makanan dan minuman. Pak Mat mendapatkan tugas eksklusif untuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa membawa makanan dari luar (kacang rebuss dan pisang rebuss) masuk ke ruangan karaoke, secara aman dan terorganisasi, tanpa ketahuan petugas.
Dan hanya sebentar saja waktu yang dibutuhkan. Akhirnya aku bisa memperkirakan ada 10 orang yang bakalan mati-matian minta ikutan. Dengan jumlah peserta sebanyak itu, Pak SBY memperkirakan bahwa DP setiap orang (sebagai bukti keikutsertaan) adalah sebesar Rp 20 ribu. Sedangkan kekurangannya dapat dikumpulkan setelah acara selesai, dan tentunya secara pro rata lagi hitung-hitungannya, untuk menghindari kerugian yang akan ditanggung pengumpul dana apabila reimburse ternyata tidak disetujui. Pak Mat dibantu dengan rekan – rekan lain masih berkutat dengan ‘bagaimana caranya untuk . …’, tapi sepertinya ide-ide yang tercetus tidak masuk akal semua, mungkin karena asal-asalan mikir kali, ya, kebanyakan tertawanya sih… Akhirnya diputuskan untuk tidak melaksanakan rencana illegal itu, karena dapat memberikan citra buruk pada perusahaan, bukannya reimburse, malah SP yang akan didapat.
Nah, tibalah pada diskusi untuk menentukan booking waktu. Hari ini ? Ngga bisa, karna diantara peserta ada yg sudah berkeluarga, jadi harus ijin dulu sama pasangan masing – masing. Lagian Bu Tha ada jadwal lari-lari di lapangan merdeka. Besok ? Aku ngga bisa, kataku, udah ada acara. Kamis ? Ngga bisa, kata Pak Mat dan Pak SBY, ada acara wirid di rumah. Jumat ? Bu Tha dan aku ngga bisa, ada acara di lantai 4. Sabtu dan Minggu, skip, itu udah default diperuntukkan buat acara keluarga di rumah masing – masing. Senin ? Jangan, biasanya banyak kerjaan, pada lembur semua. Selasa ? Bu Anda ada acara PKK di Kelurahan, secara suaminya adalah bapak Lurah jadi Bu Lurah harus ikutan dong. Rabu ? aku ngga bisa, kataku..sorry setiap rabu sore aku ngga bisa diganggu gugat, kataku sambil senyum. Kamis ? Wirid kata Pak Mat dan Pak SBY serentak. Jumat ? Pulang kampung, kataku lagi. Lalu kami terdiam sejenak, saling bertatapan dan setelah itu hahahaha…semua tertawa terbahak – bahak. Apa siih, ga ada yang punya niat serius nih kayaknya.
Mewujudkan pekerjaan ’bersenang-senang’ aja segini susahnya, gimana mewujudkan pekerjaan’berat’ ? Mungkin mejanya harus diubah segiempat dulu, jangan bundar, supaya semua ide yang tercetus pas makan siang ga cumanmuter-muter disitu – situ aja, timbul tenggelam, tapi ga kemana – mana..
Tips untuk Ngatasin Ngantuk : Kopi
Semua orang tau itu. Itu kayak peribahasa yang udah tercipta ribuan tahun silam, yang semua orang ga perlu ditanya tentang kebenarannya – karena itu benar – dan kalau masih berani-beraninya nanya tentang kebenarannya, itu artinya mempermalukan diri sendiri. Tapi buat aq sendiri peribahasa itu nonsense. Bukannya ngilangin ngantuk, minum kopi malah bikin tegang urat syaraf. Aku ga tau syaraf otakku yang kelainan atau kopi yang kuminum salah – kali aja dicampur dengan terlalu banyak campuran laen. Pokoknya dulu aku ga pernah suka, sampai pada kejadian tanggal 18 Oktober 2006 itu (hingga kini aku masih nyimpen catatan tentang itu, karena kejadian itu sangat mengesankan).
Jadi begini ceritanya.
Pagi itu aku terbangun dengan pakaian kantor kemarennya yang belum diganti, masih lengkap dengan rok dan blazer. Sangat menjengkelkan saat aq menyadari bahwa malam sebelumnya aku tertidur tanpa mandi lebih dulu, tanpa sikat gigi, tanpa mencuci mukaku yang penuh debu dan asap kendaraan, tanpa memakaikan krim malam pada wajahku. Aku ingat pulang ke rumah pukul 10 lewat beberapa puluh menit setelah menghabiskan waktu berjam-jam dengan 2 teman ku yang ga bisa berhenti ngobrol. Dan lebih menjengkelkan lagi saat aku menyadari bahwa aku terbangun tepat pukul 06.30.
Sambil menutup mata aku mengambil handuk, menuju kamar mandi, menyikat gigi 2 kali lebih lama dari biasa (balas dendam karena kemarennya alpa), mencuci muka (masih sambil menutup mata, karena aku mengantuk sekali), mencuci rambut, dan mandi sebersih-bersihnya. Habis mandi udah pukul 7 tepat. Buru-buru berpakaian dan terkantuk – kantuk mengeluarkan sepeda motor dan akhirnya melaju di jalanan. Macet. Semua kendaraan seperti hantu. Berkali-kali aku terkejut karena suara klakson, karena peluit polisi (motorku mati STNK-nya, jadi suara peluit polisi adalah pertanda bahaya), juga karena mobil-mobil dan motor-motor lain yang dengan tidak sopan mendahuluiku. Huh, susah payah aku mempertahankan kestabilan hati dan pikiran lalu akhirnya sampe juga di kantor. Aku absen, tepat pukul 07.30. Tepat sekali. Pheww, syukur. Menuju mejaku, aq berpapasan dengan bos ku yang ^?/”&^%. “Darimana kamu ?” tanyanya dengan nada bertanya yang sangat tidak ramah, seperti biasa. ”Dari toilet Bu” jawabku sambil menyembunyikan tas di belakang. Mengapa engkau mulai pagiku dengan kecerewetan ini Bunda ? Engkau bikin mood ku rusak saja…gerutuku dalam hati…
Rutinitas itupun dimulai. Turn on computer, bongkar-bongkar map pending pekerjaan dan nyari clue untuk mulai darimana. Telepon masuk dari mana-mana, minta ini itu. Aku jawab dengan “iya,iya”, “nanti”, “oke deh”, “baik”, “saya usahakan hari ini” dll. Tapi sebenarnya aku sama sekali pay no attention. Still a heavy hangover. Just like mayat hidup. Kepala pusing, mual-mual dan rasanya aku mencium asap knalpot mobil dimana-mana. Mendadak semua hal jadi ga penting. Aku tidak melayani pertanyaan, pernyataan, permintaan, joke, dan berbagai interupsi lain, dari siapapun juga. Hanya duduk, diam membisu, menatap monitor yang berpendar-pendar, cek imel imel masuk. Delete yg ga penting, arsip yg penting-penting. Buka imel-imel lucu. Puter mp3. Mood untuk get in to work bener-bener ancur-ancuran. Mataku masih saja belum kooperatif. Berkedip-kedip entah apa maunya.
Dengan susah payah akhirnya aku memutuskan untuk mojok ke pantry, wanna get out of the hell and take some deep breath. Aku cari tau apa yg masih bisa dilakukan. Switch on the TV, tapi ga ada siaran yg masuk akal. Toh Ceriwis baru nongol siang nanti. Glek, Glek, aku minum air putih banyak, bergelas-gelas, tapi masih pusing. Aku waktu itu masih ga biasa minum kopi. Kopi di kantor ku sangat keras, bikin perut mules-mules. Namun saat itu air putih ga bisa bantu banyak. Tetep aja pusing. Akhirnya aku memutuskan untuk menyeduh secangkir kopi. Cukup dengan tekan tombol on, lalu coffe maker membuatkanku a glass of coffe, hot coffee. Memang bunyinya berisik, cukup mengganggu teman-teman yang lagi sibuk bekerja. Tapi ”kepusingan” ini sudah membuatku tak tau malu. Aku lalu Tambahkan 1 1/2 sendok gula dan ¾ sendok creamer. Dan jadilah pagi itu aku minum kopi tanpa sarapan. Yah, aku baru nyadar kalo aku belum sarapan. Aku menikmati kopiku seteguk demi seteguk dengan jeda antara satu tegukan dengan tegukan lain tepat lima hitungan. Selang beberapa menit, aku sudah menyelesaikan kopiku.
Aku tiba-tiba merasa terbangun. All the pain has passed away, kepusingan, kemualan, asap knalpot dan kebetean2 serta kemalasan2 (u’ve gotta believe this) Mataku yang layu menjadi open up. Aku jadi pengen ngobrol, tertawa hahahihihi. Dan keanehan itu terjadilah, entah kenapa aku pengen sekali menyapa siapa saja, tersenyum pada siapa saja. Heran juga ya kok bisa, pasti kopi itu banyak kafeinnya sampe-sampe aku jadi aneh gitu. Tapi aku tersenyum senyum saja, kayak orang sakit yang baru sembuh karena ketemu obat mujarab. Thanks God for the Coffee teriakku (dalam hati). I’m ready to start a new day, finally. A new day ? Not really.. that was 12 am, not really2 a good time to start a day. I couldn’t believe that I’ve just waken up on that mid day. Perjuanganku menghilangkan hangover berakhir setelah siang hari ? Kakakakikikikihahahahhihihihihhuhuhuhuu.
Yah begitulah. Itulah asal muasal dari jatuh cintaku pada kopi. I am really addicted to it. Sekarang ini, tanpa kopi rasanya duniaku tidak berwarna. Setiap hari, pagi atau sore, secangkir atau kadang setengah cangkir. Dan tentunya tiada kopi tanpa bang izal. Thank you bang izal yang selalu dengan senyum ramah membuatkanku secangkir kopi. Seperti kopi itu, engkau juga telah mewarnai hariku.